Dalam dekade terakhir, kebijakan moneter ekstrem seperti suku bunga negatif telah diadopsi oleh beberapa bank sentral utama, terutama di Eropa dan Jepang, sebagai upaya stimulasi ekonomi. Dalam konteks ini, hubungan antara Suku Bunga Negatif dan Emas menjadi sangat relevan. Logam mulia ini, yang secara tradisional dianggap sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset), tiba-tiba menjadi lebih menarik sebagai penyimpan nilai dibandingkan menyimpan uang tunai atau obligasi yang memberikan imbal hasil negatif. Kebijakan ini secara efektif telah mengubah kalkulasi investasi global dan memperkuat posisi emas sebagai aset cadangan yang aman bagi individu maupun negara. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam manajemen risiko dan aset di era suku bunga rendah berkepanjangan.
Secara sederhana, kebijakan Suku Bunga Negatif dan Emas bekerja sebagai berikut: ketika bank sentral mengenakan biaya kepada bank komersial yang menyimpan kelebihan cadangan (excess reserves), bank komersial pada gilirannya dapat membebankan biaya tersebut kepada nasabah besar. Hal ini mendorong investor institusi dan bank sentral sendiri untuk mencari aset yang tidak memberikan imbal hasil negatif. Emas, meskipun tidak memberikan bunga, setidaknya tidak membebankan biaya penyimpanan (kecuali biaya fisik, yang relatif kecil). Oleh karena itu, opportunity cost (biaya peluang) dalam memegang emas menjadi sangat rendah, bahkan lebih menarik dibandingkan memegang obligasi pemerintah dengan yield negatif.
Dampak langsung dari Suku Bunga Negatif dan Emas terlihat pada peningkatan pembelian emas oleh bank sentral. Sebagai contoh, Bank Sentral Turki (CBRT) dan Bank Sentral Rusia (CBR) secara agresif meningkatkan cadangan emas mereka pada periode 2020 hingga 2025. CBRT, berdasarkan laporan World Gold Council, tercatat menambah cadangan emas sebesar 145 ton pada tahun 2024, didorong oleh kebutuhan untuk diversifikasi di tengah ketidakpastian nilai mata uang dan lingkungan suku bunga global yang tidak menentu. Keputusan ini merupakan langkah strategis untuk menahan potensi erosi nilai yang ditimbulkan oleh imbal hasil aset fixed-income yang rendah atau negatif di pasar internasional.
Bagi negara, menempatkan sebagian cadangan devisa dalam bentuk emas menjadi proteksi fundamental. Emas bertindak sebagai Asuransi Kekayaan Nasional yang mempertahankan daya beli di tengah kebijakan moneter yang tidak konvensional. Analisis pasar menunjukkan bahwa setiap kali imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun Jerman (contoh negara dengan bunga negatif) jatuh ke teritori negatif, harga emas cenderung naik. Hal ini mengonfirmasi bahwa dalam era modern, di mana biaya memegang uang tunai menjadi nyata, emas telah menegaskan kembali statusnya sebagai penyimpan nilai yang superior dan pilihan logis bagi bank sentral yang ingin menjaga ketahanan perekonomian makro.